Ekonomi & BisnisHalmahera BaratMaluku UtaraNasional

Virus Proyek Geothermal dan Alam Talaga Rano di Halbar : Ancaman Tersembunyi di Balik Energi Bersih

642
×

Virus Proyek Geothermal dan Alam Talaga Rano di Halbar : Ancaman Tersembunyi di Balik Energi Bersih

Sebarkan artikel ini
Masyarakat aktivis sekitar telaga rano

HALBAR, JELAJAHPOST.COM – Rencana pengembangan proyek energi panas bumi di kawasan sekitar Talaga Rano, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) Maluku Utara (Malut) memunculkan polemik di tengah masyarakat.

Proyek yang diklaim sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih itu kini dituding berpotensi menjadi ancaman ekologis tersembunyi bagi kawasan wisata alam yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon lingkungan daerah.

Antara Energi Bersih dan Risiko Ekologis

Pembangunan pembangkit geothermal kerap dipromosikan sebagai solusi ramah lingkungan karena rendah emisi karbon. Namun, aktivis lingkungan dan warga setempat menilai narasi “energi hijau” tidak selalu sejalan dengan kondisi lapangan.

Mereka menyoroti potensi kerusakan ekosistem hutan, pencemaran sumber air, serta gangguan terhadap habitat flora dan fauna di sekitar kawasan danau.

Menurut sejumlah tokoh masyarakat, eksplorasi panas bumi berisiko membuka akses industri skala besar ke wilayah yang sebelumnya relatif alami.

“Yang dikhawatirkan bukan hanya proyeknya, tapi efek berantai setelahnya akses jalan, aktivitas alat berat, hingga kemungkinan alih fungsi lahan,”ungkap salah satu warga.

Ekowisata Terancam

Talaga Rano selama ini dikenal sebagai destinasi ekowisata yang menawarkan lanskap alami dan nilai budaya lokal. Keberadaan proyek industri di radius kawasan wisata dikhawatirkan menurunkan daya tarik wisata serta mengganggu keberlanjutan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata dan hasil alam.

Pengamat lingkungan menilai pembangunan energi alternatif tetap harus memperhatikan prinsip kehati-hatian ekologis. Kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang transparan dan partisipatif dianggap menjadi kunci agar proyek tidak merugikan masyarakat maupun alam.

Desakan Transparansi dan Partisipasi Publik
Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah daerah dan pihak pengembang untuk membuka seluruh dokumen perencanaan proyek kepada publik. Mereka menilai keterlibatan masyarakat lokal sejak tahap awal merupakan langkah penting untuk mencegah konflik sosial dan kerusakan lingkungan.

Selain itu, warga meminta adanya jaminan perlindungan kawasan konservasi serta mekanisme pengawasan independen apabila proyek tetap dijalankan.

Dilema Pembangunan Daerah

Kasus Talaga Rano mencerminkan dilema klasik pembangunan: kebutuhan energi nasional di satu sisi dan perlindungan lingkungan di sisi lain. Tanpa pengelolaan yang hati-hati, proyek yang dimaksudkan untuk masa depan berkelanjutan justru berpotensi menimbulkan kerusakan permanen.

Hingga kini, masyarakat masih menunggu kejelasan sikap pemerintah terkait kelanjutan proyek geothermal tersebut. Bagi warga, masa depan Talaga Rano bukan sekadar soal energi, melainkan tentang warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang. (Andri)