HALBAR, JELAJAHPOST.COM – Investasi Ormat Technologies, Inc. di Indonesia berpusat pada dua proyek panas bumi utama, yaitu Sarulla di Sumatra Utara (Sumut) dan Ijen di Jawa Timur (Jatim). Secara akuntansi, per 31 Desember 2024, nilai tercatat (book value) investasi Ormat di kedua proyek itu mencapai sekitar USD 144,6 juta.
Terdiri dari USD 69,7 juta pada Sarulla (kepemilikan 12,75%) dan USD 72,4 juta pada Ijen (kepemilikan 49%). Kedua investasi ini dicatat menggunakan metode ekuitas (equity method), sehingga tidak dikonsolidasikan penuh ke dalam pendapatan perusahaan.
Nilai investasi sebesar USD 144,6 juta menunjukkan bahwa Indonesia merupakan alokasi modal yang signifikan, setara dengan sekitar 16% dari total revenue tahunan Ormat. Dengan total kapasitas eksposur sekitar 330 MW (Sarulla) + potensi ±110 MW (Ijen fase awal), Indonesia adalah bagian penting dari strategi global panas bumi Ormat.
Meskipun kontribusi revenue saat ini relatif kecil dan fluktuatif, besarnya nilai investasi menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan geothermal di Indonesia. Intinya ormat adalah produsen turbin, generator, dll, berbasis di israel, pertama-tama listing di bursa efek israhil kemudian di bursa new york, CEO dan Direksi banyak orang Israel.
Hal ini ditakutkan Riwan Basir Ketua Umum (Ketum) Mahasiswa Halmahera Barat (Sema-habar) Kota Ternate. Dikatakannya, Perusahaan Ormat Technologies yang memenangkan lelang di Talaga Rano, sekarang ini banyak di soroti dunia. Di Halmahera Barat (Halbar) Kecamatan Jailolo di Desa Idamdehe, sudah ada juga perusahaan Geothermal.
Perusahan yang saat ini melakukan operasi pengeboran sumur injeksi untuk mencari sumber listrik dan juga melakukan pemasangan pipa ke perusahaan panas bumi dari mata air Desa Lako Akediri tepat dibawah jembatan gantung yang sempat menjadi tempat wisata.
“Pipa yang dipasang pengambilan air dari kali Lako Akediri itu ditakuti warga sekitar. Apa yang disampaikan perusahaan, bahwa pipa itu hanya untuk air saja tapi apakah betul.? Takutnya jangan sampai, limbah industri Geothermal nanti juga di buang melalui pipa itu dan mengalir langsung ke kali Lako Akediri,”beber Riwan.
Hal serupa diutarakan Ketua Advokasi Sema-habar Ternate, Brans. Ia mengatakan bahwa hasil investigasi, air yang di lewati Desa Lako Akediri ini kemudian di tampung ke penampungan wisata yang menujuh pantai Idamdehe sendiri.
“Jangan sampai operasi dari pihak perusahaan Geothermal jika suda rampung, apakah bisa warga Halbar pergi berlibur ke wisata pantai Idamdehe maupun wisata pantai Lako Akediri lagi,”tanyanya.
Kemudian menurut Riwan Basir lagi, perusahaan Panas Bumi Geothermal di Talaga Rano dan Gunung Idamdehe punya hubungan, karna untuk pembangunan Listrik penyuplai ke perusahaan lain seperti di Weda Halmahera Tengah dan Perusahaan di Maluku Utara lainnya.
“Kenapa pemerintah tidak mengembangkan perusahaan listrik dari Energi Surya atau PLTS maupun Mikro Hidro yang juga Energi terbarukan selain Geothermal,”cetusnya.
Pemerintah Halbar harus mampu membangun perusahaan yang ramah lingkungan, dan kenapa pemerintah tidak fokus dorong ke Energi terbarukan skala komunitas seperti PLTS atau Mikro Hidro ini, dari pada geotermal yang lebih banyak merusak.
“Ini adalah solusi kami Sema-habar Ternate, dan juga merupakan tawaran ke pemerintah Halbar khususnya Bupati dan DPRD untuk menindaklanjuti program hilirisasi industri ramah lingkungan atau Energi baru dan terbarukan yang lebih ramah lingkungan,”terangnya.
Ini untuk keberlangsungan hidup masyarakat adat Suku Wayoli dan Suku Sahu maupun masyarakat Halbar dan untuk menjaga lingkungan maupun citra kabupaten yang di kenal dunia dengan Kekayaan alam melimpah dari pangan sampai kelautan.
“Jangan jadikan Halmahera Barat sebagai kabupaten industrial seperti Weda Halteng dan Haltim yang alamnya sudah hancur parah akibat aktivitas Industrialisasi oleh Negara Indonesia,”pungkasnya. (Riwan/Andri)













