Halmahera TimurHeadlineInternasionalMaluku Utara

Suharjo Haya Perkenalkan Sejarah Haltim di Morotai Lewat Peninggalan Perang Dunia II

295
×

Suharjo Haya Perkenalkan Sejarah Haltim di Morotai Lewat Peninggalan Perang Dunia II

Sebarkan artikel ini
Suharjo Haya. Dok. Media

DARUBA, JELAJAHPOST.COM | Berangkat dari Desa Foly, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) dengan modal seadanya, Suharjo Haya membawa sejumlah barang peninggalan perang dunia kedua (PD-II) di Morotai Festival 2025, Kabupaten Pulau Morotai.

Dengan menggunakan kendaraan roda tiga, Suharjo memperkenalkan sejumlah bukti peninggalan-peninggalan sejarah PD-II yang ditemukan di Haltim.

Baginya, Morotai Festival 2025 menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan ikatan nilai sejarah perang dunia kedua antara Haltim dan Morotai. Ia berharap, di event tersebut, Halmahera Timur dapat dikenal juga karena peninggalan sejarah perang dunia kedua.

“Alasan saya supaya Morotai juga tahu bahwa Halmahera Timur juga ada museum sejarah, biar Maluku Utara bahkan dunia juga tahu ada museum sejarah karena itu adalah sejarah perang dunia kedua,” kata Suharjo, seperti dilansir dari Nuansa Media Grup, Minggu (20/7/25) kemarin.

Menurutnya, secara umum, peninggalan sejarah PD-II di Haltim merupakan peninggalan milik tentara Nippon Jepang. Meski begitu, beberapa benda milik prajurit sekutu lain juga ditemukan di wilayah sekitar.

“Peninggalan Amerika juga, itu mungkin waktu itu, sekutu lagi menyerang ke Haltim, jadi kami temukan tempat air minum tentara Amerika dan sabuk yang ada logo burung, makanya saya bilang di sana juga ada punya Amerika yang ditemukan, “terangnya

Justru di Haltim itu salah satu sentral Jepang. Jepang yang di Kao, Galela dan lainnya itu mungkin sentralnya di Haltim, karena di Haltim itu mereka punya benteng masih utuh.

“Adapun meriam, bandara pesawat, senjata dan amunisi itu sangat banyak di Halmahera Timur, baik di Lolobata dan juga di Hatetabako,”sambungnya.

Suharjo mengaku, mulai mengumpulkan barang peninggalan PD-II ini sejak 2016. Akibat banyaknya ronsokan peninggalan PD-II, ia berinisiatif mengumpulkan sebagai sarana pembelajaran generasi selanjutnya. Selain itu, ia juga merasa beberapa daerah di Maluku Utara menjadi lebih maju karena kepedulian akan sejarah di daerah tertentu.

“Motivasi awal saya itu awalnya saya cuma lihat kenapa daerah lain itu daerahnya maju baik sejarah maupun budaya. Sementara, kita punya juga banyak, seperti bukti-bukti sejarah peninggalan Jepang saat perang dunia kedua, ini untuk diperkenalkan ke generasi kedepan, “ungkapnya.

Lebih lanjut, kata Suharjo, sebelumnya ia bergerak sendirian dalam mengumpulkan barang peninggalan PD-II. Kemudian, beberapa lainnya bergabung atas dasar kepedulian. Ia dan rekan-rekannya pun mendirikan sebuah museum swadaya PD-II di Haltim. Sepanjang itu, ia mengaku belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat meski sudah berulang kali berkoordinasi.

“Hingga saat ini belum ada (bantuan Pemda). Saya pernah ketemu bupati dan wakil bupati Haltim, pernah ketemu Kadis Pariwisata yang lama maupun yang baru, sudah beberapa kali datang ke dinas untuk perhatian bahwa Haltim sudah punya museum sejarah, “pungkasnya.(*as)