TERNATE, JELAJAHPOST.COM – Dinamika internal organisasi di tingkat daerah kembali mencuat menyusul pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) yang dinilai menimbulkan polemik. Tiga cabang definitif yakni Ternate, Sula, Morotai dan karteker cabang Halmahera Selatan (Halsel) menyatakan sikap terkait pelaksanaan Konferda tandingan. Yang disebut-sebut sarat kepentingan kelompok tertentu.
Perwakilan cabang definitif Ternate, Sula, dan Morotai menilai Konferda tandingan tersebut berbaur dengan kepentingan kelompok dari cabang Halmahera Utara (Halut). Mereka menegaskan bahwa pelaksanaan Konferda resmi telah berjalan sesuai mekanisme organisasi dan aturan yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Panitia Konferda, M. Asrul, menyampaikan bahwa sosok Recky Forno yang disebut sebagai keterwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan direkomendasikan oleh cabang asalnya, Halut, diduga menjadi dalang munculnya konflik di tubuh DPD.
“Saudara Recky Forno hadir sebagai keterwakilan DPP atas rekomendasi cabang asalnya, Halmahera Utara. Namun dalam dinamika yang terjadi, justru muncul Konferda tandingan yang memperkeruh situasi organisasi,”kata Asrul, Rabu (4/3/26)
Menurutnya, Konferda tandingan yang digagas tersebut diduga dilatarbelakangi ketidakpuasan karena kandidat dari cabang asal Recky Forno tidak memperoleh dukungan mayoritas dalam forum resmi.
Ketua panitia juga menilai langkah penyelenggaraan Konferda tandingan tersebut tidak mencerminkan semangat persatuan dan justru berpotensi memecah belah soliditas organisasi di tingkat daerah.
Di sisi lain, pihak cabang definitif dan karteker Halsel meminta Dewan Pimpinan Pusat (DPP) untuk segera mengambil langkah tegas guna menyelesaikan konflik dan memastikan legitimasi kepengurusan hasil Konferda resmi. (As)













