Oleh : Aprianto Lajime (Rian)
JELAJAJPOST.COM – Megahnya angka pertumbuhan ekonomi dan klaim keberhasilan pembangunan yang kerap didengungkan Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) seolah luluh lantak ketika kita menjejakkan kaki di jalur pesisir, mulai dari Desa Bicoli hingga Syanamli.
Di sana, narasi kesejahteraan yang dijanjikan Bupati Drs. Ubaid Yakub hanyalah fatamorgana yang terkubur dalam kubangan lumpur dan debu jalanan yang hancur lebur.
Melihat kondisi jalan yang menghubungkan Bicoli, Lakoda, Sil, hingga Syanamli, kita patut melayangkan pertanyaan krusial “Untuk siapa sebenarnya pembangunan di bawah kepemimpinan Ubaid Yakub diperuntukkan? Apakah Bupati lupa bahwa di balik gedung-gedung pemerintahan yang nyaman di Maba, ada ribuan rakyatnya yang harus bertaruh nyawa setiap hari hanya untuk melintasi jalanan yang lebih mirip jalur off-road daripada akses publik.!
*Ironi Negeri Tambang di Maba Selatan*
Ketimpangan yang terjadi di Maba Selatan ini memicu kritik keras dari berbagai pihak yang merasakan langsung penderitaan di lapangan. Penulis sendiri melihat adanya ketidakadilan nyata dalam pengelolaan wilayah yang kaya akan sumber daya mineral ini.
“Saya merasa dengan banyaknya perusahaan pertambangan yang berada di Halmahera Timur. Seharusnya Bupati Haltim juga harus melihat desa-desa yang berada di Maba Selatan,”kata Aprianto yang akrab disapa Rian.
Sangat ironis, Haltim adalah “anak emas” industri pertambangan yang menyuplai devisa besar bagi negara. Namun, Bupati seolah tak berdaya atau mungkin enggan mendesak sinergi infrastruktur yang nyata di wilayah penyangga tambang. Rakyat tidak butuh seremoni peresmian gedung, rakyat Bicoli sampai Syanamli butuh aspal beton yang kokoh agar anak-anak mereka bisa sekolah tanpa harus berkubang lumpur.
*Jalan Rusak, Bukti Pengabaian Hak Dasar*
Bupati Ubaid Yakub harus sadar bahwa membiarkan jalan dari Bicoli ke Syanamli tetap rusak adalah bentuk pengabaian hak-hak dasar warga negara, seperti;
1. Kesehatan: Berapa banyak ibu hamil yang harus menanggung guncangan maut di tengah jalan saat hendak dirujuk menuju fasilitas kesehatan?
2. Ekonomi: Berapa banyak petani di pedalaman Maba Selatan yang jatuh miskin karena hasil buminya busuk di jalan akibat truk yang tertanam di lumpur?
3. Infrastruktur: Mengapa anggaran daerah seolah “alergi” untuk menyentuh perbaikan permanen (Rigid Pavement) di wilayah ini secara tuntas?
Ketimpangan ini adalah tamparan keras bagi kepemimpinan daerah. Bagaimana mungkin seorang Bupati bisa tidur nyenyak sementara rakyatnya di pesisir harus menghirup debu pekat di musim kemarau dan bertarung dengan kubangan di musim hujan?
*Janji yang Berkarat dan Tagihan Visi Daerah*
Masyarakat sudah bosan dengan janji-janji politik yang hanya muncul menjelang kontestasi. Jika dalam masa kepemimpinan Drs. Ubaid Yakub jalur Bicoli hingga Syanamli tidak kunjung diperbaiki secara tuntas dan berkualitas, maka jangan salahkan publik jika menyimpulkan bahwa Pemerintah Daerah telah gagal total menjalankan amanat rakyat.
Sebagai penutup, penulis menyampaikan tuntutan terbuka yang didasari oleh janji politik pemerintah itu sendiri.
“Saya tegaskan kepada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Halmahera Timur untuk segera memperbaiki jalan yang berada di Maba Selatan,”pintahnya.
Hal ini sangat mendesak karena termasuk dalam visi Kabupaten Halmahera Timur, yakni mewujudkan daerah yang Maju dan Sejahtera melalui transformasi berkelanjutan, pembangunan infrastruktur merata, peningkatan kualitas SDM, serta tata kelola pemerintahan yang inovatif dan aspiratif.
“Bupati dan Wakil Bupati harus keluar dari zona nyaman. Berhentilah berlindung di balik keterbatasan anggaran. Rakyat Bicoli, Lakoda, Sil, dan Syanamli butuh eksekusi nyata, bukan sekadar kutipan visi yang indah di atas kertas namun berkarat dimakan waktu,”terangnya.
“Sudah saatnya pemerintah mewujudkan ‘infrastruktur merata’ yang sesungguhnya, bukan hanya untuk segelintir wilayah, tapi untuk seluruh rakyat Halmahera Timur,”pungkas Rian.













