Topik Terkini

Warga Kawasi Protes Narasi WALHI, “Pernyataan Itu Merendahkan Kami”

258
×

Warga Kawasi Protes Narasi WALHI, “Pernyataan Itu Merendahkan Kami”

Sebarkan artikel ini

HALSEL, JELAJAHPOST.COM — Warga Kawasi, Halmahera Selatan, menyampaikan keberatan keras terhadap narasi kampanye lingkungan yang dibawa Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Mereka menilai pernyataan seperti “Kawasi itu orang miskin” hingga “minum air lumpur” tidak hanya keliru, tetapi juga merendahkan martabat masyarakat setempat.

Seorang warga yang enggan disebut namanya menilai narasi tersebut telah keluar dari substansi isu lingkungan dan justru menyerang identitas masyarakat.

“Pernyataan itu sudah seperti pelecehan bagi masyarakat Kawasi. Karena kondisi sebenarnya tidak seperti yang mereka sampaikan,” ujarnya.

Warga lainnya, Jofi Cako, turut menilai langkah WALHI telah melebar jauh dari konteks lingkungan dan hanya memunculkan opini negatif di publik.

“Kalau kita melihat kegiatan yang digelar WALHI, itu terlalu melebar dan terlalu jauh mengintervensi persoalan Kawasi yang secara substansi tidak tepat,” kata Jofi.

Ia memperingatkan bahwa kampanye seperti itu justru dapat memicu gesekan sosial.
“Yang ada apa? Justru berpotensi menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Cukuplah membuat opini-opini yang dampaknya kurang baik kepada masyarakat,” tambahnya.

Terkait isu air bersih dan listrik yang sering muncul dalam aksi protes, warga menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan karena ketidakmampuan perusahaan, melainkan faktor teknis serta praktik ilegal tertentu.

“Air itu tinggal main putar di kran. Cuma saudara-saudara kita di bawah (Pemukiman Lama) ini tidak mau pindah, entah dengan alasan macam-macam,” jelas seorang warga.

Warga juga menyebut keberadaan orang luar Kawasi yang kerap melakukan penyambungan listrik liar sebagai penyebab terganggunya pasokan listrik.

“Padahal sebenarnya kalau mereka mau pindah, itu kegelisahan mereka sepenuhnya sudah terjawab,” tegasnya.

Keluhan warga ini menjadi sinyal agar kampanye lingkungan tetap menggunakan data akurat dan tidak menyinggung martabat masyarakat lokal. (Red)