HALSEL, JELAJAHPOST.COM | Angin laut berembus pelan di Pulau Wora Wora, Kecamatan Botanglomang. puluhan orang tampak berdiri khidmat di sekitar sebuah makam sederhana. Mereka adalah keluarga besar, murid, dan sahabat yang datang untuk mengenang sosok yang tak akan pernah mereka lupakan almarhum Joguru Hi Sadik Djafar Noch, tokoh pendidikan dan agama yang telah menjadi cahaya bagi masyarakat Halmahera Selatan.
Ziarah dan tahlilan di makam almarhum berlangsung penuh haru. Di antara lantunan doa dan ayat suci, tampak wajah-wajah yang menunduk khusyuk, mengenang jasa seorang guru besar yang hidupnya didedikasikan untuk mendidik dan membimbing dengan ketulusan.
“Beliau bukan hanya guru di sekolah, tapi juga guru dalam kehidupan,” kenang salah satu muridnya, menahan air mata. “Ketegasannya mengajarkan disiplin, tapi kasih sayangnya membuat kami merasa seperti anak sendiri.”
Nama Joguru Hi Sadik Djafar Noch telah lama dikenal di Halmahera Selatan. Ia bukan sekadar pendidik, melainkan seorang pembentuk karakter dan penyebar ilmu yang tanpa pamrih. Dalam setiap pengajarannya, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan akhlak antara kecerdasan dan kerendahan hati.
Puluhan tahun ia mengabdikan diri di dunia pendidikan dan dakwah, menanamkan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan kerja keras. Dari tangannya lahir ribuan murid yang kini tersebar di berbagai daerah menjadi guru, imam, dan tokoh masyarakat yang meneruskan api perjuangannya.
“Beliau mendidik tanpa mengharap imbalan. Yang beliau ingin hanyalah agar kami menjadi manusia yang berguna,” ujar salah seorang tokoh masyarakat yang turut hadir.
Kegiatan ziarah kali ini dihadiri tidak hanya oleh keluarga besar, tetapi juga para imam, guru, kepala desa, serta masyarakat dari berbagai penjuru Kecamatan Botanglomang. Di tengah suasana laut yang tenang, mereka bersama-sama membaca Surah Yasin dan tahlil.
Suasana terasa begitu sakral. Setiap doa yang terucap seolah menjadi jembatan antara rindu yang tak terbalas dan harapan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Usai berdoa di makam, kegiatan dilanjutkan dengan tahlilan bersama di tepi pantai. Di bawah tenda sederhana yang berdiri di antara pepohonan kelapa, keluarga dan tamu berbagi cerita tentang almarhum. Tawa kecil sesekali terdengar, menggantikan keheningan yang sebelumnya penuh tangis.
“Semoga doa yang kita panjatkan hari ini menjadi cahaya bagi almarhum,” ucap Imran Sadik Djafar Noch, salah satu putra almarhum. “Kami percaya, beliau kini beristirahat dengan tenang, karena semasa hidupnya hanya berbuat untuk kebaikan.”
Imran juga menyampaikan bahwa keluarga besar akan melanjutkan kegiatan ini dengan Haul Almarhum Joguru Hi Sadik Djafar Noch pada Sabtu, 1 November 2025, di Labuha. Kegiatan tersebut akan menjadi momentum untuk mengenang, sekaligus meneladani kembali ajaran dan perjuangan sang guru besar.
“Haul ini bukan hanya untuk mengenang beliau, tapi juga untuk menyalakan kembali semangat yang beliau wariskan semangat belajar, berbuat baik, dan menjaga persaudaraan,” ungkap Imran dengan mata yang basah oleh air mata haru.
Almarhum meninggalkan lebih dari sekadar harta atau nama besar. Ia meninggalkan warisan moral dan spiritual yang kini dijaga oleh anak-anaknya, termasuk Novik Sadik Djafar Noch, yang memimpin keluarga besar dengan nilai-nilai yang sama seperti sang ayah ajarkan jujur, sederhana, dan berbuat untuk sesama.
Warisan itu hidup dalam do’a yang terus terucap, dalam amal yang terus mengalir, dan dalam jiwa generasi penerus yang tak pernah melupakan bimbingan beliau.
Kegiatan ziarah ditutup dengan doa bersama. Di bawah langit senja yang perlahan memerah, seluruh peserta menengadahkan tangan, memohon agar Allah SWT menerima amal ibadah almarhum, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
“Semoga semangat dan ajaran almarhum tetap menjadi penerang bagi kita semua,” tutup Imran Hi. Sadik Djafar Noch, mewakili keluarga besar.
Catatan Redaksi:
Kisah almarhum Joguru Hi Sadik Djafar Noch bukan hanya tentang seorang guru dan ulama, tetapi tentang nilai-nilai kehidupan yang abadi tentang ketulusan dalam mengajar, kesabaran dalam membimbing, dan cinta yang terus hidup di hati mereka yang pernah dia sentuh. (Red)













